kumpulan askep

silahkan dapatkan askepmu disini

Sabtu, 31 Oktober 2009

ASUHAN KEPERAWATAN BAYI DENGAN HYPERBILIRUBIN

1. Pengertian
Menurut buku Ilmu Kesahatan Anak II FK Unair Surabaya, 1989 : 257 mengatakan bahwa Hyperbilirubinemia adalah meningkatnya kadar bilirubin dalam darah yang biasanya diserta dengan ikterus. Kadar bilirubin normal adalah 0 – 1 mg/%.
Sedangkan menurut Wong Dounal and Whaley Lucille, 1990 : 1236 mengatakan hyperbilirubiemia ( joundace) pada bayi baru lahir adalah timbunan dari serum bilirubin melebihi batas normal ( 5 – 7 mg/100 dl)


Ikterus adalah warna kuning yang tampak pada kulit dan mukosa karena adanya bilirubin pada jaringan tersebut akibat peningkatan kadar bilirubin dalam darah.
Ikterus dibedakan pada bayi menjadi 3, yaitu :
a. Ikterus Fisiologik
Disebut Ikterus fisiologik bila :
1) Timbul pada hari kedua dan ketiga
2) kedua bilirubin indirek tidak melampaui 10 mg % pada neonatus cukup bulan dan 12,5 mg % pada neonatus kurang bulan
3) Kecepatan peningkatan kadar bilirubin tidak melebihi 5 mg % per hari
4) Kadar bilirubin direk tidak melebihi 1 mg %
5) Ikterus menghilang pada 10 hari pertama
6) Tidak terbukti mempunyai hubungan dengan keadaan patologi
b. Ikterus Patologik
Disebut ikterus patologik bila :
1) Ikterus terjadi pada 24 jam pertama
2) kedua bilirubin indirek melampaui 10 mg % pada neonatus cukup bulan dan 12,5 mg % pada neonatus kurang bulan
3) Kecepatan peningkatan kadar bilirubin melebihi 5 mg % per hari
4) Ikterus menetap sesudah 2 pertamamg %
5) Kadar bilirubin direk melebihi 1 mg %
6) Ikterus yang mempunyai hubungan dengan proses hemolitik, infeksi berat atau keadaan patologik lain yang telah diketahuikeadaan patologi
c. kern-ikteus
adalah suatu sindroma neurologik yang timbul sebagai akibat penimbunanbilirubin tak terkonjugasi dalam sel-sel otak. Kerusakan ini terjadi pada korpus striatus, thalamus, nucleus subtalamus, hypokampus, nucleus merah dan nucleus pada dasar ventrikulus ke IV.. Gejala Kern Ikterus pada permulaan kurang jelas, dapat berupa mata yang berputar, letargi, kejang, tak mau makan, tonus otot meningkat, leher kaku dan akhirnya epistotonus (purnawan Junaidi, dkk, 1982 : 548)

2. Etiologi
Secara garis besar etiologi ikterus neonatorum dapat dibagi sebagai berikut :
a. Produksi yang berlbihan yang melebihi kemampuan bayi untuk mengeluarkannya. Terdapat pada hemolisis yang meningkat akibat inkompetibleitas golongan darah. (Rh, ABO antagonis, atau defisiensi ensim G6PD)
b. Gangguan pada proses pengambilan dan kenjugasi hepar dapat disebabkan oleh imaturasi hepar, kurangnya substrat untuk konjugasi bilirubin, hypoksia, dan gangguan fungsi hepar dan infeksi
c. Gangguan dalam transportasi. Untuk dapat diangkut ke hepar bilirubin diikat oleh albumin terlebih dahulu. Defisiensi albumin menyebabkan lebih banayak bilirubin indirek bebas dalam darah yang mudah melekat pada otak
d. Gangguan dalam sekresi dapat terjadi akibat obstruksi dalam hepar atau diluar hepar, akibat penyakit hepar bawaan, infeksi atau kerusakan hepar oleh penyebab lain. (ngastiyah, 1997 : 199)


3. Patofisologi

• Produksi berlebihan
• Gangguan konjugasi hepar
• Gangguan transportasi
• Gangguan ekskeresi


Hyperbilirubinmia


Bil Indirek bebas dalam darah 

Mudah melekat pada sel otak

Kerusakan otak (kernikterus)


Letargi
Kejang

Tak mau m,engisap
Tonus otot 
Epistotonus
Ikterus pada kulit

Gatal

Resiko gangguan integritas kulit





Resiko gangguan jalan nafas
Resiko kurang nutrisi

Resiko aspirasi Bilirubin dalam darah terikat albumin

Defisiensi albumin


Defisiensi immunology


Resiko infeksi

4. Penatalaksanaan
a. mempercepat proses konjugasi misalnya dengan pemberian fenobarbital. Fenobarbitaal dapat bekerja sebagai enzim induser sehingga konjugasi dapat dipercepat
b. menambah substrat yang kurang untuk transportasi atau konjugasi sseperti pemberian albumin untuk mengikat bilirubin bebas
c. Melakukan dekomposisi bilirubin dengan terapi sinar yang dapat menurunkan kadar bilirubin dengan cepat. Terapi sinar mengubah senyawa 4 Z, 15 Z – bilirubin menjadi senyawa bentuk 4 Z, 15 E Bilirubin yang merupakan bentukisomer yang mudah larut dalam plasma sehingga mudah disekresi oleh hati kedalam empedu. Dari empedu dilepas ke usus untuk kemudian diskresi bersama faeses.
Photo terapi dilakukan pada keadaan :
1) Kenaikan bilirubin indirek yang sangat cepat ( 0,4 mg/kg/jam), atau kadar bilirubin indirek > 10 mg/dl dan bayi dalam keadaan hemolisis ditandai dengan ikterus pada hari I
2) Terapi sinar dilakukan sebelum dan sesudah tranfusi tukar
Photo terapi tidak dilakukan pada bayi dengan ganguan motilitas / peristaltic usus. (obstruksi, enteristis)
d. Tranfusi tukar dengan indikasi :
1) Pada semua keadaan dengan kadar bilirubin indirek kurang dari 20 mg %
2) Kenaikan kadar bilirubin indirek yang cepat ( 0,3 – 1 mg 5 / jam)
3) Anemia yang berat pada neonatus dengan tanda – tanda dekompensasi jantung
4) Bayi dengan kadar Hb talipusat kurang dari 14 mg %, bilirubin lebih dari 5 mg % dan test coombs direk yang positif


5. Pemgkajian Keperawatan
a. Anamnese orang tua/keluarga
Ibu dengan rhesus ( - ) atau golongan darah O dan anak yang mengalami neonatal ikterus yang dini, kemungkinan adanya erytrolastosisfetalis ( Rh, ABO, incompatibilitas lain golongan darah). Ada sudara yang menderita penyakit hemolitik bawaan atau ikterus, kemungkinan suspec spherochytosis herediter kelainan enzim darah merah. Minum air susu ibu , ikterus kemungkinan kaena pengaruh pregnanediol.

b. Riwayat kelahiran
• Ketuban pecah dini, kesukaran kelahiran dengan manipulasi berlebihan merupakn predisposisi terjadinya infeksi
• Pemberian obat anestesi, analgesik yang berlebihan akan mengakibatkan gangguan nafas (hypoksia) , acidosis yang akan menghambat konjugasi bilirubn.
• Bayi dengan apgar score renddah memungkinkan terjadinya (hypoksia) , acidosis yang akan menghambat konjugasi bilirubn.
• Kelahiran Prematur berhubungan juga dengan prematuritas organ tubuh (hepar).

c. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan umum tampak lemah, pucat dan ikterus dan aktivitas menurun
2) Kepala leher
• Bisa dijumpai ikterus pada mata (sclera) dan selaput / mukosa pada mulut. Dapat juga diidentifikasi ikterus dengan melakukan Tekanan langsung pada daerah menonjol untuk bayi dengan kulit bersih ( kuning)
• Dapat juga dijumpai cianosis pada bayi yang hypoksia
3) Dada
• Selain akan ditemukan tanda ikterus juga dapat ditemukan tanda peningkatan frekuensi nafas.
• Status kardiologi menunjukkan adanya tachicardia, kususnya ikterus yang disebabkan oleh adanya infeksi
4) Perut
• Peningkatan dan penurunan bising usus /peristaltic perlu dicermati. Hal ni berhubungan dengan indikasi penatalaksanaan photo terapi. Gangguan Peristaltik tidak diindikasikan photo terapi.
• Perut membuncit, muntah , mencret merupakan akibat gangguan metabolisme bilirubun enterohepatik
• Splenomegali dan hepatomegali dapat dihubungkan dengan Sepsis bacterial, tixoplasmosis, rubella
5) Urogenital
• Urine kuning dan pekat.
• Adanya faeces yang pucat / acholis / seperti dempul atau kapur merupakan akibat dari gangguan / atresia saluran empedu
6) Ekstremitas
Menunjukkan tonus otot yang lemah
7) Kulit
• Tanda dehidrasi titunjukkan dengan turgor tang jelek. Elastisitas menurun.
• Perdarahan baah kulit ditunjukkan dengan ptechia, echimosis.
8) Pemriksaan Neurologis
Adanya kejang, epistotonus, lethargy dan lain – lainmenunjukkan adanya tanda – tanda kern - ikterus
d. Pemerksaan Penunjang
1) Darah : DL, Bilirubin > 10 mg %
2) Biakan darah, CRP menunjukkan adanya infeksi
3) Sekrening enzim G6PD menunjukkan adanya penurunan
4) Screnning Ikterus melalui metode Kramer dll
5) Skreening ikterus melalui matode kremer.

6. Diagnosa Keperawatan
a. Resiko terjadi injuri berhubungan dengan efek phototerapi , imaturyti hati
b. Gangguan integrritas kulit berhubungan dengan jaondase
c. Perubahan temperatur tubuh berhubunga dengan phototerapi
d. Perubahan volume cairan berhubungan dengan intake rendah dan efek fototerapi
e. Resiko kekurangan nutrisi berhubungan dengan kemampuan menghisap menurun

7. Rencana intervensi
a. Resiko terjadi injuri berhubungan dengan efek phototerapi, imaturyti hati
Tujuan ; Tidak mengalami komplikasi dari phototerapi
Criteria hasil
1. tidak memperlihatkan iritasi mata, dehidrasi, ketidakstabilan temperatur, dan kerusakan kulit
2. Bayi terlindung dari sumber cahaya

Intervensi
1) Lindungi mata bayi dengan penutup mata khusus
R/ menhindari kontak langsung mata dengan sinar
2) Chek mata bayi setiap shift (drainase dan iritasi)
R/ mencegah keterlambatan penanganan
3) Letakkan bayi telanjang dibawah lampu dengan perlindungan mata dan kemaluan
R/ Pencahayaan maksimum dan merata serta organ vital terlindungi dari kerusakan
4) monitor temperatur aksila
R/ pemaparan panas dengan sinar memungkinkan terjadinya ketidakstabilan suhu badan
5) pastikan intake cairan adequate
R/ Pemaparan panas meningkatkan penguapan yang harus segera diganti dengan intake cairan
6) jaga bersihan perianal
R/ Menekan resiko ieritasi kulit



b. Resiko kekurangan nutrisi berhubungan intake tidak adequate sekunder kemapuan menghisap turun
Tujuan : tidak terjadi gangguan pemenuhan nutrisi
Kriteria hasil
1) Porsi minum habis
2) BB naik
3) Menghisap kuat
Intervensi
1) berikan nutrisis secara adequate
2) Berikan minum tepat waktu dan sesuai ukuran dan kebutuhan
R/ menganti cairan dan nutrisi yang hilang akibat terapi sinar
3) observasi kemampuan menghisap
R/ pemasukan nutrisi adequate bila kemampuan mengisap baik
4) Kpasang Sonde bila kemampuan mengisap turun
R/ mningkatkan intake melalui sonde karena gagal melalui mulut
5) Timbang BB setiap hari
R/ memantau perkembangan kebutuhan nutrisi
6) Kolaborasi ahli gizi


Referensi
1. Abdul Bari et all. 2001. Buku acuan Nasional Kesehatan Maternal dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiro hardjo. Jakarta
2. Carpenito. 2000. Diagnosa Keperawatan. EGC. Jakarta
3. Ngastiyah. 1997. Ilmu Keperawatan pada anak sakit. EGC. Jakarta.
4. Purnawan Junaidi et al. 1982. Kapita selekta kedokteran. Edisi ke 2 . Media Aesculapius. Jakarta
5. Wongand Walley. 1990. Clinical Manual of pediatric Nursing. Third ediion. Mosby Compani. Philapidelpia
























Laporan Kasus

Nama : Muncul Wiyana
N I M : 010030174 B

Ruangan : Neonatologi No. Reg. :
Pengkajian : Tanggal 15 -07 - 2002 Jam : 11.00 WIB
-------------------------------------------------------------------------------------------------
I. IDENTITAS
Nama : By Temu Tgl. MRS : 12 – 7 - 2002
Umur : 12 hari Diagnosa : NA + Ikterus Neonatorum
Jenis kelamin : Laki
BB MRS : 2700 mg PB : 48 cm
Identitas orang tua
Nama Ayah : Supriandono
Umur : 32 tahun
Pekerjaan : Swasta
Nama Ibu : Ny temu
Umur : 27 Tahun
Pekerjaan : -
Agama : Islam
Suku/bangsa : Jawa/Indonesia
Alamat : Pasar Bunga Kayun 35 – 36 Surabaya


II. Riwayat Keperawatan
1. Keluhan Utama : Ikterus dan post sepsi
2. Riwayat Keperawatan Sebelumnya
a. Pre Natal : dan tidak pernah minum obat/jamu selain yang diberikan dokter. Selama hamil tidak pernah ada keluhan yang berarti dari kehamilannya
b. Natal : Lahir pada tanggal 12 Juli 2002 di IRD dengan SC. Letak lintang. Ketuban pecah dini 1 jam 27 menit sebelum bayi lahir dengan warna jernuh. Apgar Score 357, BBL = 2700 PB 48 cm, LK = 34 cm, LD = 31 cm. Lahir dengan aspiksia berat dn ikterus
c. Post natal : bayi dikirm ke neonatology karena ikterus dan asfiksia berat.
3. Riwaat keperawatan saat ini
Saat ini dalam perawatan diruang neonatology , sedang dalam terapi sinar. Reflek mengisap membaik, O2 terus terpasang 1 l/mnt,.Menangis kuat. Bayi masih kelihatan lemah. Kuning diseluruh tubuh masih kleihatan. Bayi dipasang infus D 10 % 250 cc/ 24 jam. Sementara dipuasakan

III. Pemeriksaan fisik
K/u lemah, reflek menggenggam lemah, reflek mengisap kuat, reflek menangis kuat, reflek moro ( +) Tonus otot cukup. Tanda vital : Nadi : 140 x/mnt, RR = 44 x/mnt, suhu = 36 ,7 C
Kepala
Rambut hitam, tipis, chepal hematom (- ) Caput sedanium (-), muka bentuk oval, simetris . Ikterus ( + )
Mata
Kemerahan (-) Iktrus (+) selama foto terapi mata ditutup dengan kaca mata hitam
Hidung
Skret ( - ) , gerakan cuping hidung ( - ), terpasang O2 pernasal
Mulut
Bibir merah, lidah bersih, cianosis ( -) . Mengisap ( minum) kuat . Menangis kuat. Moniliasis ( - )
Telinga : Tak dijumpai kelainan
Leher: Tak ditemukan kelainan
Dada : Bentuk simetris, Rhonci / wheezing ( - / - ). Retraksi (- ) , ikterus ( + ) kulit dada banyak mengelupas.
Abdomen
Talip usat belum kering, triplede diberikan ( + ) Kembung ( -)peristaltic ( +) gerakan seirama nafas, hepar tak teraba, ikterus ( + )
Genetalia
Tak ditemukan kelainan. Skrotum sudah turun, selam terapi sinar selalu di tutup dengan popok BAK kekuningan 5-6 x/hari
Rectum
Tak ditemukan kelainan.
Ekstremitas
Reflek menggenggam lemah, reflek moro ( +) Tonus otot cukup.Pergerakan lemah, iktrus ( + ). Akral hangat
Pemeriksaan neurologis
Kejang ( - ), epistotonus ( - )
Integumen
Turgor cukup, kelelmbaban cukup, lesi ( - ) ikterus ( + ) kremer 3
IV. Pemeriksaan Penunjang
Hasil Laboratorium tgl 15 Juli 2002
Bilirubin total = 22 mg mg%
GDA = 70
Hb = 18.4 mg %
Leukosit = 74000
SE = 65
Gol Darah = O
CRP = 0,6 ( negatif)
Tgl 16 Juli 2002
Bilirubin total = 18
Tgl 17 juli 2002
Bilirubin total = 14

V. Terapi yang diperoleh
Infus D 10 % 250 cc/24 jam
Sementara dipuasakan
O2 terpasang 1 ltr/mnt
Head up kepala
Fdoto terpi 24 jam
Termoregulasi
Meronem 3 x 30 mg iv

Tanda Tangan Mahasiswa

Muncul Wiyana
NIM.: 01003 0174 B

ANALISA DATA

NO DATA KEMUNGKINAN PENYEBAB MASALAH
1. S : -
O : Ikterus ( + ) Bil total 22 mg%
mulai jam 00 WIB dilakukan foto terapi. Posisi terlentang. Suhu badan 36.5 0 C. turgor cukup. BB 2650 gr. Foto terapi

Pemajanan langsungpanas/sinar

Resiko Panas tubuh meningkat
Melebihi batas normal Resiko tinggi perubahan suhu badan
2 S : -
O : Ikterus ( + ) Bil total 22 mg%
mulai jam 00.00 WIB dilakukan foto terapi. Posisi terlentang. Kedua mata ditutup dengan kaca mata hitam serta kemaluan di kenakan popok. Suhu badan 36.5 0 C. turgor cukup. BB 2650 gr. Posisi tidakpernah dirubah selama foto terapi Foto terapi

Pemajanan langsungpanas/sinar

Cedera mata/genetlia

Resiko injury
3 S ; -
O : : Ikterus ( + ) Bil total 22 mg%
Suhu badan 36.5 0 C. turgor cukup. BB 2650 gr. Kulit dada tampak banyak mengelupas
Ikterus Phototerapi
(bil. Kult  )

Gatal kulit kering

Integritas berubah/rusak
Resiko kerusakan intgeritas kulit
4 S : -
O : Sementara dipuasakan. Infus d10% 250 cc/24 jam. Turgor cukup. Tx Photo terapi I sedang berjalan dimulai jam 00.00 . Suhu badan 36.7 C. Nadi 120 x/mnt Foto terapi

Pemajanan langsungpanas/sinar

Peningkatan Penguapan

Kehilangan volume cairan berlebihan

Intake tidak seimbang (puasa)

Devisit volume cairan Resiko devisit volume cairan tubuh
Diagnosa Keperawatan
1. Resiko terjadi injuri berhubungan dengan efek phototerapi, imaturyti hati
2. Resiko devisit volume cairan tubuh berhubungan dengan peningkatan penguapan sekunder foto terapi
3. Resiko perubahan suhu badan (Peningkatan suhu badan) berhubungan dengan pemajanan sinar yang lama seknder foto terapi
4. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan denga peningkatan bilirubin dikulit dan efek foto terapi

Rencana Keperawatan
Resiko terjadi injuri berhubungan dengan efek phototerapi, imaturyti hati
Tujuan ; Tidak mengalami komplikasi dari phototerapi
Criteria hasil
1. tidak memperlihatkan iritasi mata, dehidrasi, ketidakstabilan temperatur, dan kerusakan kulit
2. Organ vital bayi terlindung dari sumber cahaya

Intervensi
1) Pertahankan proteksi mata dan genetalia dengan fiksasi yang memadai
R/ kontak langsung mata dangenetalia dengan sinar ultra violet dalam jangka panjang berakibat fatal
2) Chek mata bayi setiap shift (drainase dan iritasi)
R/ mencegah keterlambatan penanganan
3) Pastikan lampu dalam kondisi siap pakai
R/ Keruakan lampu (pecah, strum meneybar ke box) dapat menimbulkan cedera baru pda bayi
4) Observasi tadna vital klien, tanda dehidrasi, tanda hypertermi
R/ peningkatan penguapan akibat pemaparan panas terus menerus dapat berakibat dehidrasi dan hypertermi


Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan pemajanan sinar (panas) yang lama sekunder foto terapi
Tujuan : selama tindakan foto terapi tidak terjadi kekurangan cairan
Kriteria hasil
Tidak ada tanda dehidrasi
 Turgor baik
 Kelembaban kulit baik
 Mata tidak cwong
 Mukosa tidak kering

Rencana intervensi
1. Observasi tanda dehidrasi setiap jam selama fototerapi
2. Observasi tanda vital
3. berikan minum PASI 8 x 40 cc/ 24 jam 9 k/p ekstra
4. Observasi intake cairan dar infus. Pertahankan kelancaranannya
5. Observasi output urine


Resiko Perubahan suhu tubuh ( Peningkatan suhu badan) berhubungan dengan pemajanan panas yang lama sekunder foto terapi
Tujuan ; Perubahan suhu dalam batas normal
Criteria hasil
Suhu badan dalam batas 36.5 0 C – 37.5 0 C

Intervensi
1) Kontrol / obsevasi suhu badan setiap jam selama foto terapi berlangsung
R/ Perubahan suhu dapat terjadi dengan cepat akibat pemaparan sinar yang juga sebagi sumber panas.
2) Ubah posisi bayi setiap 2 jam
R/ Pemajanan yang merata dan bergantian mengurangi resiko tidak efektifnya pusat suhu badan
3) Hentikan/istirahatkan foto terapi bilashu diatas 38 C.
R/ Semakin lama pemajanan semakin tinggi kemungkinan perubahan suhu banan
4) Kompres basah bila suhu meningkat
R/ Pemberian kompres mengurangi / sebagai media konduksi pembuangan panas
5) Kolaborasi dokter bila panas tidak / sulit turun/ terlalu tinngi untuk mendapatkanantipiretik























IMPLEMENTASI

Dx Tgl Jam Kegiatan
1,2



1,2,3 16/7/02 08.00

10.00

12.00
- Mengkaji gejala kardinal ( suhu 36 20 C, Nadi 124 x/mnt)
- Menyiapkan pemeriksaan bilirubin total ( H v/d B)
- Memberikan susu perspeen 40 cc habis
- Memberikan posisi terlentang
- Mengobservasi tanda dehidrasi
- Mempertahankan foto terapi
- Memperhatikan kelancaran cairan infus ( mengobservasi tetes infus)
- Mengobservasi tanda vital ( suhu 370 C, Nadi 128 x/mnt)
1.,2 17/7/02 13.30


15.00 - Mengkaji gejala kardinal ( suhu 37 20 C, Nadi 120 x/mnt)
- Memberikan susu perspeen
- Mengatur posisi klien tengkurap
- Memperhatikan dan menjaga kelancaran cairan infus
- Memandikan bayi
- Memberikan injeksi meronem
18/7/02 15.00



Memandikan bayi dan mengganti baju
Observasi gejala kardinal
Membrikan susu per sepeen
Melepas infus
Sementara foto terapi stop/istirahat










Catatan perkembangan ( Evaluasi )
Tgl 17/7/02
S : -
O : Suhu : 36. 8 0C Nadi 124 x/mnt
A : Tidak terjadi peningkatan suhu badan diatas normal
P : planing dipertahankan

Tgl 17/7/02
S : -
O : suhu 36. 8 0C Nadi 124 x/mnt, tanda iritasi mata dan perubahan /tanda injury tak ada
A : Tidak terjadi injury selama foto terapi
P : planing dipertahankan

Tgl 17/7/02
S : -
• Tak ditemukan tanda dehidrasi
• Mukosa basah
• Turgor cukup baik
• Kelembaban cukup
• BAK lancar 5 – 6 x/24 jam, tidak pekat, warna masih kuning
A : Tidak terjadi dehidrasi selama foto terapi
P : planing dipertahankan

Tgl 18/7/02
S : -
O : Suhu : 36. 8 0C Nadi 124 x/mnt
A : Tidak terjadi peningkatan suhu badan diatas normal
P : planing dipertahankan



Tgl 18/7/02
S : -
O : suhu 36. 8 0C Nadi 124 x/mnt, tanda iritasi mata dan perubahan /tanda injury tak ada
A : Tidak terjadi injury selama foto terapi
P : planing dipertahankan

Tgl 18/7/02
S : -
• Tak ditemukan tanda dehidrasi
• Mukosa basah
• Turgor cukup baik
• Kelembaban cukup
• BAK lancar 5 – 6 x/24 jam, tidak pekat, warna masih kuning
A : Tidak terjadi dehidrasi selama foto terapi
P : planing dipertahankan


0 komentar:

Poskan Komentar

 

My Blog List

Cari Blog Ini

Memuat...

Term of Use